OHoiiii.... entah kenapa saya tiba2 kangen sama Thailand, hiks... padahal dulu pas disana rasa2nya kebelet banget buat pulang. hohohoho... Maka untuk menyalurkan rasa kangen saya, hari ini saya akan berbagi sedikit tentang bahasa Thai yang saya bisa, agak sulit sih sebenernya, karena pada dasarnya bahasa Thai itu ada 5 pengucapan berbeda, beda nada beda arti lohhh... Mulai dari yang simple aja kali yah. mari kita belajar menghitung !!! *siapin simpoa* 1 (satu)= neng pengucapan neng di sini, bukan seperti kita manggil mbak2 lewat loh ya "neng..neng.. godain kita donk" bukannnn... tapi kayak pengucapan " ne " pada kata "nelangsa" 2 (dua) = song pengucapannya seperti kata "lagu" dalam bahasa inggris "sing a song" 3 (tiga) = sam pengucapannya biasa aja, seperti pengucapan kata " sam " pada kata "sama" 4 (empat) = si pengucapannya seperti kita mengucapkan kata " si apa" 5 (lima) = ha jika kamu...
my Little Choco Kemarin, Nana (panggilan sayang adik alm suami) datang ke rumah sambil nangis sesenggukan, dia bilang Choco, kelinci kecil yang baru kami beli 2 minggu lalu, mati, aku periksa nadinya, aku senteri matanya dan yes, semua negative respon, dan dengan berat hati aku bilang, "Iya, nadinya udah gak ada, pupilnya juga gak merespon dengan cahaya, telinganya udah kaku, badannya juga udah mulai dingin, I'm so sorry" kataku sambil mengusap telinga Choco "Choco~~" panggil Zee, anakku yang belum genap 2 tahun. dia mengelus Choco pelan, lalu melihat bingung ke arah Nana "Nana nanis" katanya sambil pukpuk pundak Nana "Iya~~ Choco mati Zee" jawab Nana sambil terisak Aku mendudukkan Zee diatas pangkuanku supaya bisa lihat Choco lebih dekat. "Choco sudah mati Zee, sudah tidak bernapas, tidak bisa makan dan bermain sama kita lagi" El, anakku yang pertama, datang menghampiri kami, ia ikut mengelus Choco dan mengulang kalimat yang aku u...
Aku sedang bertanya-tanya, Apa yang sedang terjadi padaku sesungguhnya, bahkan merebut kembali sesuatu yang harusnya milikku, aku harus berpikir berulang kali, bertindak sehati-hati mungkin agar tak menyakiti siapapun, padahal pada kenyataannya, aku yang sebenarnya luka dan berdarah. Apa karena aku sudah terbiasa dipaksa mengalah, memaklumi dan menerima segala hal jahat yang mereka lakukan padaku?
Komentar
Posting Komentar